MASYARAKAT PEDESAAN DAN PERKOTAAN
A. Pengertian Masyarakat
Masyarakat adalah sekumpulan individu-individu yang hidup bersama, bekerja sama untuk memperoleh kepentingan bersama yang telah memiliki tatanan kehidupan, norma-norma, dan adat istiadat yang ditaati dalam lingkungannya. Masyarakat berasal dari bahasa inggris yaitu "society" yang berarti "masyarakat", lalu kata society berasal dari bahasa latin yaitu "societas" yang berarti "kawan". Sedangkan masyarakat yang berasal dari bahasa arab yaitu "musyarak".
B. MASYARAKAT PEDESAAN
Persekutuan hidup yang paling kecil dimulai saat manusia primitif mencari makan, yaitu dengan berburu, sebagai migrator, nomad berjumlah 10-300 orang. Berkembangnya cara bertani menyebabkan lahirnya suatu persekutuan hidup permanen pada suatu tempat, kampung, babakan, dengan sifat yang khas, yaitu:
a) Kekeluargaan
b) Adanya kolektivitas dalam pembagian tanah dan pengerjaannya
c) Ada kesatuan ekonomis yang memenuhi kebutuhan sendiri
Persekutuan hidup ini akan berubah dengan berkembangnya sistem kapitalisme dan masyarakat industri, artinya dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurut Koentjaraningrat, suatu masyarakat desa menjadi suatu persekutuan hidup dan kesatuan sosial didasarkan atas dua macam prinsip:
a) Prinsip hubungan kekerabatan (geneologis)
b) Prinsip hubungan tinggal dekat/teritorial
Prinsip ini tidak lengkap apabila yang mengikat adanya aktivitas tidak diikutsertakan, yaitu:
a) Tujuan khusus yang ditentukan oleh faktor ekologis
b) Prinsip yang datang dari “atas” oleh aturan dan undang-undang
Persekutuan hidup yang paling kecil dimulai saat manusia primitif mencari makan, yaitu dengan berburu, sebagai migrator, nomad berjumlah 10-300 orang. Berkembangnya cara bertani menyebabkan lahirnya suatu persekutuan hidup permanen pada suatu tempat, kampung, babakan, dengan sifat yang khas, yaitu:
a) Kekeluargaan
b) Adanya kolektivitas dalam pembagian tanah dan pengerjaannya
c) Ada kesatuan ekonomis yang memenuhi kebutuhan sendiri
Persekutuan hidup ini akan berubah dengan berkembangnya sistem kapitalisme dan masyarakat industri, artinya dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurut Koentjaraningrat, suatu masyarakat desa menjadi suatu persekutuan hidup dan kesatuan sosial didasarkan atas dua macam prinsip:
a) Prinsip hubungan kekerabatan (geneologis)
b) Prinsip hubungan tinggal dekat/teritorial
Prinsip ini tidak lengkap apabila yang mengikat adanya aktivitas tidak diikutsertakan, yaitu:
a) Tujuan khusus yang ditentukan oleh faktor ekologis
b) Prinsip yang datang dari “atas” oleh aturan dan undang-undang
Hubungan tiap individu dimulai dengan lingkungan kecil mencakup kerabat dan tatangga dekat, atau dengan hubungan terjaring dengan pola terkupas, di mana orang bergaul untuk suatu lapangan kehidupan dalam batas lingkungan sosial tertentu, tidak termasuk warga dan lingkungan tadi. Dalam pola ini mungkin terjadi prinsip hubungan tempat tinggal dekat, kebutuhan khusus, ekologi, atau
kekerabatan.
C. PERBEDAAN MASYARAKAT PEDESAAN DENGAN MASYARAKAT PERKOTAAN
1. Lingkungan Umum dan Orientasi Terhadap Alam
Masyarakat pedesaaan berhubungan kuat dengan alam, disebabkanoleh lokasi geografinya didaerah desa. Mereka sulit "mengontrol" kenyataan alam yang dihadapinya, padahal bagi petani realitas alam ini sangat vital dalam menunjang kehidupannya. Penduduk yang tinggal di desa akan banyak ditentukan oleh kepercayaan-kepercayaan dan hukum-hukum alam, seperti dalam pola berpikir dan falsafah hidupnya. Tentu akan berbeda dengan penduduk yang tinggal di kota, yang kehidupannya "bebas" dari realitas alam. Misalnya dalam bercocok tanam dan menuai harus pada waktunya, sehingga ada kecenderungan nrimo. Padahal mata pencaharian juga menentukan relasi dan reaksi sosial.
2. Pekerjaan atau Mata Pencaharian
Pada umumnya mata pencaharian masyarakat pedesaan adalah bertani. Tetapi mata pencaharian berdagang (bidang ekonomi) merupakan pekerjaan sekunder dari perkejaan yang non pertanian. Dimasyarakat kota mata pencaharian cenderung menjadi terspesialisasi, dan spesialisasi itu sendiri dapat dikembangkan, mungkin menjadi manajer suatu perusahaan, ketua atau pimpinan dalam suatu birokrasi.
3. Ukuran komunitas
Komunitas pedesaan biasanya lebih kecil dari komunitas perkotaan. Dalam mata pencaharian dibidang pertanian, imbangan tanah dengan manusia cukup tinggi bila dibandingkan dengan industri, dan akibatnya daerah pedesaan mempunyai penduduk yang rendah per kilometer perseginya.
4. Kepadatan Penduduk
Penduduk desa kepadatannya lebih rendah bila dibandingkan dengan kepadatan penduduk kota. Kepadatan penduduk suatu komunitas kenaikannya behubungan dengan klasifikasi dari kota itu sendiri.
5. Homogenitas dan heterogenitas
Homogenitas atau persamaan dalam ciri-ciri sosial dan psikologi, bahasa, kepercayaan, adat istiadat, dan perilaku sering nampak pada masyarakat pedesaan bila dibandingkan dengan masyarakat perkotaan. Dikota sebaliknya, penduduknya heterogen, terdiri dari orang-orang dengan macam-macam subkultur dan kesenangan, kebudayaan, mata pencaharian.
6. Diferensiasi sosial
keadaan heterogen dari penduduk kota berindikasi pentingnya derajat yang tinggi didalam diferensasi sosial. Fasilitas kota, pendidikan, rekreasi, agama, bisnis, dan fasilitas perumahan, adanya pembagian pekerjaan, dan adanya saling membutuhkan serta saling tergantung. kenyataan ini berbanding terbalik dengan kehidupan masyarakat pedesaan. Tingkat homogenitas alami ini cukup tinggi, dan relatif berdiri sendiri dengan derajat yang rendah daripada diferensiasi sosialnya.
7. Pelapisan sosial
Kelas sosial didalam masyarakat sering nampak dalam perwujudannya seperti 'piramida sosisal", yaitu kelas-kelas yang tinggi berada pada posisi atas piramida, kelas menengah ada diantara kedua tingkat kelas ekstrem dari masyarakat.
8. Mobilitas sosial
Mobilitas sosial berkaitan dengan perpindahan atau pergerakan suatu kelompok sosial ke kelompok sosial lainnya. Mobilitas kerja dari suatu pekerjaan ke pekerjaan lainnya, mobilitas teritorial dari daerah desa ke kota, dari kota ke desa, atau di daerah desa dan kota sendiri.
Mobilitas atau perpindahan penduduk dari desa ke kota (urbanisasi) lebih banyak ketimbang dari kota ke desa.
9. Interaksi sosial
Tipe interaksi sosial di desa dan di kota perbedaannya sangat kontras, baik aspek kualitasnya maupun kuantitasnya. Perbedaannya yang penting dalam interaksi sosial di daerah pedesaan dan perkotaan, di antaranya:
a. Masyarakat pedesaan lebih sedikit jumlahnya dan tingkat mobilitas sosialnya rendah, maka kontak pribadi per individu nya lebih sedikit.
b. Dalam kontak sosial berbeda secara kuantitatif maupun secara kualitatif. penduduk kota lebih sering kontak, tetapi cenderung formal, dan tidak bersifat prbadi (impersonal), tetapi melalui tugas atau kepentingan yang lain. Di desa kontak sosial terjadi lebih banyak dengan tatap muka, ramah tamah (informal), dan pribadi.
10. Pengawasan sosial
Tekanan sosial di pedesaan lebih kuat karena kontaknya yang bersifat pribadi dan ramah tamah (informal), dan keadaan masyarakatnya yang homogen. Penyesuaian terhadap norma-norma sosial lebih tinggi dengan tekanan sosial yang informal.
Dikota pengawasan sosial lebih bersifat formal, pribadi, kurang "terkena" aturan yang di tegakan, dan peraturan lebih menyangkut masalah pelanggaran.
11. Pola kepemimpinan
Menentukan kepemimpinan di daerah pedesaan cenderung banyak ditentukan oleh kualitas pribadi dari individu dibandingkan di kota. keadan ini disebabkan oleh lebih luasnya kontak tatap muka,dan individu lebih banyak saling mengetahui daripada di daerah kota. misalnya karena kesalahan, kejujuran, jiwa pengorbanannya, dan pengalamannya. Kalau kriteria ini melekat terus pada generasi selanjutnya, maka kriteria keturunanpun akan menentukan kepemimpinan di pedesaan.
12. Standar kehidupan
Berbagai alat yang menyenangkan di rumah, keperluan masyarakat, pendidikan, rekreasi, fasilitas agama, dan fasilitas lain yang dirasakan oleh penduduk yang jumlahnya padat. Seperti hal nya di kota dengan kosentrasi dan jumlah penduduk yang padat, sedangkan didesa terkadang tidak demikian. Orientasi hidup dan pola berpikir masyarakat desa yang sederhana dan standar hidup demikian kurang mendapat perhatian.
13. Kesetiakawanan Sosial
Kestiakawanan sosial (social solidarity) atau kepaduan dan kesatuan, pada masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan banyak di tentukan oleh msing-masing faktor yang berbeda.
14. Nilai dan sistem Nilai
Nilai dan sistem nilai di desa dengan di kota berbeda, dan dapat diamati dalam kebiasaan, cara dan norma yang berlaku.
D. HUBUNGAN KOTA DAN DESA
Menurut sistem pergolongan administrasi, "kota" dapat dikatakan sebagai pusat "pendominasian" yang secara bertingkat diturunkan ke bawah, melalui sistem administrasi negara. Maka "kota-kota" secara bertingkat merupakan suatu jaringan, dimana kota sebagai pusat jaringan dan desa-desa dipinggiran menjadi pusat pendominasian. Kedudukan yang tidak seimbang ini terermin dalam hubungan struktural-fungsional antara desa dan kota, yaitu desa merupakan penghasil bahan makanan, bahan mentah, penyuplai tenaga kasar yang diperlukan bagi warga kota, sedangkan kota merupakan "pelindung" bagi warga desa, sebagai tempat orientasi bagi kemajuan teknologi dan peradaban, pusat-pusat perubahan dan pembaharuan kebudayaan yang dapat dijadikan orientasi warga desadalam perbaikan hidupnya.
kekerabatan.
C. PERBEDAAN MASYARAKAT PEDESAAN DENGAN MASYARAKAT PERKOTAAN
1. Lingkungan Umum dan Orientasi Terhadap Alam
Masyarakat pedesaaan berhubungan kuat dengan alam, disebabkanoleh lokasi geografinya didaerah desa. Mereka sulit "mengontrol" kenyataan alam yang dihadapinya, padahal bagi petani realitas alam ini sangat vital dalam menunjang kehidupannya. Penduduk yang tinggal di desa akan banyak ditentukan oleh kepercayaan-kepercayaan dan hukum-hukum alam, seperti dalam pola berpikir dan falsafah hidupnya. Tentu akan berbeda dengan penduduk yang tinggal di kota, yang kehidupannya "bebas" dari realitas alam. Misalnya dalam bercocok tanam dan menuai harus pada waktunya, sehingga ada kecenderungan nrimo. Padahal mata pencaharian juga menentukan relasi dan reaksi sosial.
2. Pekerjaan atau Mata Pencaharian
Pada umumnya mata pencaharian masyarakat pedesaan adalah bertani. Tetapi mata pencaharian berdagang (bidang ekonomi) merupakan pekerjaan sekunder dari perkejaan yang non pertanian. Dimasyarakat kota mata pencaharian cenderung menjadi terspesialisasi, dan spesialisasi itu sendiri dapat dikembangkan, mungkin menjadi manajer suatu perusahaan, ketua atau pimpinan dalam suatu birokrasi.
3. Ukuran komunitas
Komunitas pedesaan biasanya lebih kecil dari komunitas perkotaan. Dalam mata pencaharian dibidang pertanian, imbangan tanah dengan manusia cukup tinggi bila dibandingkan dengan industri, dan akibatnya daerah pedesaan mempunyai penduduk yang rendah per kilometer perseginya.
4. Kepadatan Penduduk
Penduduk desa kepadatannya lebih rendah bila dibandingkan dengan kepadatan penduduk kota. Kepadatan penduduk suatu komunitas kenaikannya behubungan dengan klasifikasi dari kota itu sendiri.
5. Homogenitas dan heterogenitas
Homogenitas atau persamaan dalam ciri-ciri sosial dan psikologi, bahasa, kepercayaan, adat istiadat, dan perilaku sering nampak pada masyarakat pedesaan bila dibandingkan dengan masyarakat perkotaan. Dikota sebaliknya, penduduknya heterogen, terdiri dari orang-orang dengan macam-macam subkultur dan kesenangan, kebudayaan, mata pencaharian.
6. Diferensiasi sosial
keadaan heterogen dari penduduk kota berindikasi pentingnya derajat yang tinggi didalam diferensasi sosial. Fasilitas kota, pendidikan, rekreasi, agama, bisnis, dan fasilitas perumahan, adanya pembagian pekerjaan, dan adanya saling membutuhkan serta saling tergantung. kenyataan ini berbanding terbalik dengan kehidupan masyarakat pedesaan. Tingkat homogenitas alami ini cukup tinggi, dan relatif berdiri sendiri dengan derajat yang rendah daripada diferensiasi sosialnya.
7. Pelapisan sosial
Kelas sosial didalam masyarakat sering nampak dalam perwujudannya seperti 'piramida sosisal", yaitu kelas-kelas yang tinggi berada pada posisi atas piramida, kelas menengah ada diantara kedua tingkat kelas ekstrem dari masyarakat.
8. Mobilitas sosial
Mobilitas sosial berkaitan dengan perpindahan atau pergerakan suatu kelompok sosial ke kelompok sosial lainnya. Mobilitas kerja dari suatu pekerjaan ke pekerjaan lainnya, mobilitas teritorial dari daerah desa ke kota, dari kota ke desa, atau di daerah desa dan kota sendiri.
Mobilitas atau perpindahan penduduk dari desa ke kota (urbanisasi) lebih banyak ketimbang dari kota ke desa.
9. Interaksi sosial
Tipe interaksi sosial di desa dan di kota perbedaannya sangat kontras, baik aspek kualitasnya maupun kuantitasnya. Perbedaannya yang penting dalam interaksi sosial di daerah pedesaan dan perkotaan, di antaranya:
a. Masyarakat pedesaan lebih sedikit jumlahnya dan tingkat mobilitas sosialnya rendah, maka kontak pribadi per individu nya lebih sedikit.
b. Dalam kontak sosial berbeda secara kuantitatif maupun secara kualitatif. penduduk kota lebih sering kontak, tetapi cenderung formal, dan tidak bersifat prbadi (impersonal), tetapi melalui tugas atau kepentingan yang lain. Di desa kontak sosial terjadi lebih banyak dengan tatap muka, ramah tamah (informal), dan pribadi.
10. Pengawasan sosial
Tekanan sosial di pedesaan lebih kuat karena kontaknya yang bersifat pribadi dan ramah tamah (informal), dan keadaan masyarakatnya yang homogen. Penyesuaian terhadap norma-norma sosial lebih tinggi dengan tekanan sosial yang informal.
Dikota pengawasan sosial lebih bersifat formal, pribadi, kurang "terkena" aturan yang di tegakan, dan peraturan lebih menyangkut masalah pelanggaran.
11. Pola kepemimpinan
Menentukan kepemimpinan di daerah pedesaan cenderung banyak ditentukan oleh kualitas pribadi dari individu dibandingkan di kota. keadan ini disebabkan oleh lebih luasnya kontak tatap muka,dan individu lebih banyak saling mengetahui daripada di daerah kota. misalnya karena kesalahan, kejujuran, jiwa pengorbanannya, dan pengalamannya. Kalau kriteria ini melekat terus pada generasi selanjutnya, maka kriteria keturunanpun akan menentukan kepemimpinan di pedesaan.
12. Standar kehidupan
Berbagai alat yang menyenangkan di rumah, keperluan masyarakat, pendidikan, rekreasi, fasilitas agama, dan fasilitas lain yang dirasakan oleh penduduk yang jumlahnya padat. Seperti hal nya di kota dengan kosentrasi dan jumlah penduduk yang padat, sedangkan didesa terkadang tidak demikian. Orientasi hidup dan pola berpikir masyarakat desa yang sederhana dan standar hidup demikian kurang mendapat perhatian.
13. Kesetiakawanan Sosial
Kestiakawanan sosial (social solidarity) atau kepaduan dan kesatuan, pada masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan banyak di tentukan oleh msing-masing faktor yang berbeda.
14. Nilai dan sistem Nilai
Nilai dan sistem nilai di desa dengan di kota berbeda, dan dapat diamati dalam kebiasaan, cara dan norma yang berlaku.
D. HUBUNGAN KOTA DAN DESA
Menurut sistem pergolongan administrasi, "kota" dapat dikatakan sebagai pusat "pendominasian" yang secara bertingkat diturunkan ke bawah, melalui sistem administrasi negara. Maka "kota-kota" secara bertingkat merupakan suatu jaringan, dimana kota sebagai pusat jaringan dan desa-desa dipinggiran menjadi pusat pendominasian. Kedudukan yang tidak seimbang ini terermin dalam hubungan struktural-fungsional antara desa dan kota, yaitu desa merupakan penghasil bahan makanan, bahan mentah, penyuplai tenaga kasar yang diperlukan bagi warga kota, sedangkan kota merupakan "pelindung" bagi warga desa, sebagai tempat orientasi bagi kemajuan teknologi dan peradaban, pusat-pusat perubahan dan pembaharuan kebudayaan yang dapat dijadikan orientasi warga desadalam perbaikan hidupnya.
Dr. M. Munandar Soelaeman, Ilmu Sosial Dasar
http://umum-pengertian.blogspot.com/2016/05/pengertian-masyarakat-secara-umum.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar