Sabtu, 08 Desember 2018

MASYARAKAT PEDESAAN DAN PERKOTAAN

   A. Pengertian Masyarakat
        Masyarakat adalah sekumpulan individu-individu yang hidup bersama, bekerja sama untuk   memperoleh kepentingan bersama yang telah memiliki tatanan kehidupan, norma-norma, dan adat istiadat yang ditaati dalam lingkungannya. Masyarakat berasal dari bahasa inggris yaitu "society" yang berarti "masyarakat", lalu kata society berasal dari bahasa latin yaitu "societas" yang berarti "kawan". Sedangkan masyarakat yang berasal dari bahasa arab yaitu "musyarak".

B. MASYARAKAT  PEDESAAN
   Persekutuan hidup yang paling kecil dimulai saat manusia primitif mencari makan, yaitu dengan berburu, sebagai migrator, nomad berjumlah 10-300 orang. Berkembangnya cara bertani menyebabkan lahirnya suatu persekutuan hidup permanen pada suatu tempat, kampung, babakan, dengan sifat yang khas, yaitu:
   a) Kekeluargaan
   b) Adanya kolektivitas dalam pembagian tanah dan pengerjaannya
   c) Ada kesatuan ekonomis yang memenuhi kebutuhan sendiri
  
   Persekutuan hidup ini akan berubah dengan berkembangnya sistem kapitalisme dan masyarakat industri, artinya dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurut Koentjaraningrat, suatu masyarakat desa menjadi suatu persekutuan hidup dan kesatuan sosial didasarkan atas dua macam prinsip:
   a) Prinsip hubungan kekerabatan (geneologis)
   b) Prinsip hubungan tinggal dekat/teritorial

   Prinsip ini tidak lengkap apabila yang mengikat adanya aktivitas tidak diikutsertakan, yaitu:
   a) Tujuan khusus yang ditentukan oleh faktor ekologis
   b) Prinsip yang datang dari “atas” oleh aturan dan undang-undang
 
       Hubungan tiap individu dimulai dengan lingkungan kecil mencakup kerabat dan tatangga dekat, atau dengan hubungan terjaring dengan pola terkupas, di mana orang bergaul untuk suatu lapangan kehidupan dalam batas lingkungan sosial tertentu, tidak termasuk warga dan lingkungan tadi. Dalam pola ini mungkin terjadi prinsip hubungan tempat tinggal dekat, kebutuhan khusus, ekologi, atau 
kekerabatan.

 C. PERBEDAAN MASYARAKAT PEDESAAN DENGAN MASYARAKAT PERKOTAAN
   1. Lingkungan Umum dan Orientasi Terhadap Alam
       Masyarakat pedesaaan berhubungan kuat dengan alam, disebabkanoleh lokasi geografinya didaerah desa. Mereka sulit "mengontrol" kenyataan alam yang dihadapinya, padahal bagi petani realitas alam ini sangat vital dalam menunjang kehidupannya. Penduduk yang tinggal di desa akan banyak ditentukan oleh kepercayaan-kepercayaan dan hukum-hukum alam, seperti dalam pola berpikir dan falsafah hidupnya. Tentu akan berbeda dengan penduduk yang tinggal di kota, yang kehidupannya "bebas" dari realitas alam. Misalnya dalam bercocok tanam dan menuai harus pada waktunya, sehingga ada kecenderungan nrimo. Padahal mata pencaharian juga menentukan relasi dan reaksi sosial.


   2. Pekerjaan atau Mata Pencaharian
       Pada umumnya mata pencaharian masyarakat pedesaan adalah bertani. Tetapi mata pencaharian berdagang (bidang ekonomi) merupakan pekerjaan sekunder dari perkejaan yang non pertanian. Dimasyarakat kota mata pencaharian cenderung menjadi terspesialisasi, dan spesialisasi itu sendiri dapat dikembangkan, mungkin menjadi manajer suatu perusahaan, ketua atau pimpinan dalam suatu birokrasi.


  3. Ukuran komunitas
      Komunitas pedesaan biasanya lebih kecil dari komunitas perkotaan. Dalam mata pencaharian dibidang pertanian, imbangan tanah dengan manusia cukup tinggi bila dibandingkan dengan industri, dan akibatnya daerah pedesaan mempunyai penduduk yang rendah per kilometer perseginya.


   4. Kepadatan Penduduk
       Penduduk desa kepadatannya lebih rendah bila dibandingkan dengan kepadatan penduduk kota. Kepadatan penduduk suatu komunitas kenaikannya behubungan dengan klasifikasi dari kota itu sendiri.


   5. Homogenitas dan heterogenitas
       Homogenitas atau persamaan dalam ciri-ciri sosial dan psikologi, bahasa, kepercayaan, adat istiadat, dan perilaku sering nampak pada masyarakat pedesaan bila dibandingkan dengan masyarakat perkotaan. Dikota sebaliknya, penduduknya heterogen, terdiri dari orang-orang dengan macam-macam subkultur dan kesenangan, kebudayaan, mata pencaharian.


   6. Diferensiasi sosial
       keadaan heterogen dari penduduk kota berindikasi pentingnya derajat yang tinggi didalam diferensasi sosial. Fasilitas kota, pendidikan, rekreasi, agama, bisnis, dan fasilitas perumahan, adanya pembagian pekerjaan, dan adanya saling membutuhkan serta saling tergantung. kenyataan ini berbanding terbalik dengan kehidupan masyarakat pedesaan. Tingkat homogenitas alami ini cukup tinggi, dan relatif berdiri sendiri dengan derajat yang rendah daripada diferensiasi sosialnya.


   7. Pelapisan sosial
       Kelas sosial didalam masyarakat sering nampak dalam perwujudannya seperti 'piramida sosisal", yaitu kelas-kelas yang tinggi berada pada posisi atas piramida, kelas menengah ada diantara kedua tingkat kelas ekstrem dari masyarakat.


   8. Mobilitas sosial
       Mobilitas sosial berkaitan dengan perpindahan atau pergerakan suatu kelompok sosial ke kelompok sosial lainnya. Mobilitas kerja dari suatu pekerjaan ke pekerjaan lainnya, mobilitas teritorial dari daerah desa ke kota, dari kota ke desa, atau di daerah desa dan kota sendiri.
   Mobilitas atau perpindahan penduduk dari desa ke kota (urbanisasi) lebih banyak ketimbang dari kota ke desa.


   9. Interaksi sosial
       Tipe interaksi sosial di desa dan di kota perbedaannya sangat kontras, baik aspek kualitasnya maupun kuantitasnya. Perbedaannya yang penting dalam interaksi sosial di daerah pedesaan dan perkotaan, di antaranya:
a. Masyarakat pedesaan lebih sedikit jumlahnya dan tingkat mobilitas sosialnya rendah, maka kontak pribadi per individu nya    lebih sedikit.
b. Dalam kontak sosial berbeda secara kuantitatif maupun secara kualitatif. penduduk kota lebih sering kontak, tetapi cenderung formal, dan tidak bersifat prbadi (impersonal), tetapi melalui tugas atau kepentingan yang lain. Di desa kontak sosial terjadi lebih banyak dengan tatap muka, ramah tamah (informal), dan pribadi.


   10. Pengawasan sosial
         Tekanan sosial di pedesaan lebih kuat karena kontaknya yang bersifat pribadi dan ramah tamah (informal), dan keadaan masyarakatnya yang homogen. Penyesuaian terhadap norma-norma sosial lebih tinggi dengan tekanan sosial yang informal.
Dikota pengawasan sosial lebih bersifat formal, pribadi, kurang "terkena" aturan yang di tegakan, dan peraturan lebih menyangkut masalah pelanggaran.

 
   11. Pola kepemimpinan
         Menentukan kepemimpinan di daerah pedesaan cenderung banyak ditentukan oleh kualitas pribadi dari individu dibandingkan di kota. keadan ini disebabkan oleh lebih luasnya kontak tatap muka,dan individu lebih banyak saling mengetahui daripada di daerah kota. misalnya karena kesalahan, kejujuran, jiwa pengorbanannya, dan pengalamannya. Kalau kriteria ini melekat terus pada generasi selanjutnya, maka kriteria keturunanpun akan menentukan kepemimpinan di pedesaan.


   12. Standar kehidupan
         Berbagai alat yang menyenangkan di rumah, keperluan masyarakat, pendidikan, rekreasi, fasilitas agama, dan fasilitas lain yang dirasakan oleh penduduk yang jumlahnya padat. Seperti hal nya di kota dengan kosentrasi dan jumlah penduduk yang padat, sedangkan didesa terkadang tidak demikian. Orientasi hidup dan pola berpikir masyarakat desa yang sederhana dan standar hidup demikian kurang mendapat perhatian.


    13. Kesetiakawanan Sosial
          Kestiakawanan sosial (social solidarity) atau kepaduan dan kesatuan, pada masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan banyak di tentukan oleh msing-masing faktor yang berbeda.


    14. Nilai dan sistem Nilai
          Nilai dan sistem nilai di desa dengan di kota berbeda, dan dapat diamati dalam kebiasaan, cara dan norma yang berlaku.


D. HUBUNGAN KOTA DAN DESA
Menurut sistem pergolongan administrasi, "kota" dapat dikatakan sebagai pusat "pendominasian" yang secara bertingkat diturunkan ke bawah, melalui sistem administrasi negara. Maka "kota-kota" secara bertingkat merupakan suatu jaringan, dimana kota sebagai pusat jaringan dan desa-desa dipinggiran menjadi pusat pendominasian. Kedudukan yang tidak seimbang ini terermin dalam hubungan struktural-fungsional antara desa dan kota, yaitu desa merupakan penghasil bahan makanan, bahan mentah, penyuplai tenaga kasar yang diperlukan bagi warga kota, sedangkan kota merupakan "pelindung" bagi warga desa, sebagai tempat orientasi bagi kemajuan teknologi dan peradaban, pusat-pusat perubahan dan pembaharuan kebudayaan yang dapat dijadikan orientasi warga desadalam perbaikan hidupnya.    
     
     

Dr. M. Munandar Soelaeman, Ilmu Sosial Dasar 
http://umum-pengertian.blogspot.com/2016/05/pengertian-masyarakat-secara-umum.html
 



Selasa, 27 November 2018

PEMUDA DAN SOSIALISASI

A. Pengertian Pemuda
     Pemuda adalah individu yang berada pada tahap yang progresif dan dinamis, sehingga kerap kali pada fase ini dikatakan sebagai usia yang produktif untuk melakukan berbagai bentuk kegiatan, baik belajar, bekerja, dan lain sebagainya

B. PEMUDA DAN PERMASALAHANNYA
   Pemuda sering juga disebut "generasi muda", merupakan istilah demografis dan sosiologis dalam konteks tertentu. Beberapa literatur mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan pemuda ialah:
a. mereka yang berumur antara 10-24 tahun;
b. mereka yang berumur antara 15-30 tahun;
c. mereka yang berumur antara 15-35 tahun;
d. mereka yang secara psikologid mempunyai jiwa muda dan mempunyai identitas kepemudaan.

   Peranan pemuda dalam masyarakat dan bangsa telah digariskan dalam GBHN, yaitu:
a. Pengembangan generasi muda dipersiapkan untuk kader penerus perjuangan bangsa dan                   pembangunan nasional, dengan memberi bekal keterampilan, kepemimpinan, kesegaran jasmani, daya kreasi, patriotisme, idealisme, kepribadian dan budi yang luhur.
b. Pengembangan wadh pembinaan generasi muda, seoerti sekolah, organisasi fungsional pemuda seperti KNPI, Pramuka, organisasi olah raga, dan lain-lain.
c. Perlu diwujudkan suatu kebijaksanaan nasional tentang kepemudan secara menyeluruh dan terpadu.

  Peranan pemuda sehubungan dengan pembangunan, peranan itu dibedakan menjadi dua, yaitu:
a. Didasarkan atas usaha pemuda untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan-tuntutan lingkungannya. Pemuda dalam hal ini dapat berperan sebagai penerus tradisi dengan jalan menaati tradisi yang berlaku. kebudayaan diwujudkan dalam tingkah lakunya masing-masing.
b. Didasarkan atas usaha menolak penyesuaian diri dengan lingkungan. Peranan pemuda jenis ini dapat dirinci dalam tiga sikap, yaitu :
  1. "pembangkit" Mereka adalah pengurai atau pembuka kejelasan dari suatu masalah sosial. sehingga, mereka secara tidak langsung ikut mengubah masyarakat dan kebudayaannya.
  2.  Pemuda Nakal (delinkuen) Mereka tidak berniat mengadakan perubahan. baik pada budaya maupun pada masyarakat, tetapi hanya berusaha memperoleh manfaat dari masyarakat dengan melakukan tindakan menguntungkan bagi dirinya.
  3. Radikal Mereka berkeinginan besar mengubah masyarakat dan kebudayaan lewat cara-cara radikal, revolusioner.

C. SOSIALISASI PEMUDA
     Sosialisasi diartikan sebagai proses yang membantu individu melalui belajar dan menyesuaikan diri, bagaimana cara hidup dan bagaimana cara berpikir kelompoknya agar dapat berperan dan berfungsi dalam kelompoknya (Charlatte Buchler, 1968).

    Proses sosialisasi melahirkan kedirian dan kepribadian seseorang. Kedirian (self) sebagai suatu produk sosialisasi, merupakan kesadaran terhadap diri dendiri dan memandang adanya pribadi orang lain diluar dirinya. Asal mula timbulnya kedirian:
a. Dalam proses sosialisasi mendapat bayangan dirinya, yaitu setelah memperhatikan cara orang lain memandang dan memperlakukan dirinya.
b. Dalam proses sosialisasi juga membentuk kedirian yang ideal. Orang bersangkutan mengetahui dengan pasti apa-apa yang harus ia lakukan agar memperoleh penghargaan dari orang lain. Mekanisme kedirian itu adalah "identifikasi", yaitu kemampuan untuk tidak saja menilai bagaimana tampang dan tingkah laku orang lain, tetapi juga membuat suatu angan-angan ideal tentang orang lain yang patut ditiru.

    Dimensi kedirian diantaranya adalah teori Freud tentang id (hasrat, keinginan pada diri seseorang/inti biologis), Ego (mediator kompromi antara hasrat seseorang dengan tututan masyarakat/akal pikiran) dan superego (kesadaran sosial atau social coscience yang mengawasi motivasi-motivasi id). Teori dimensi kedirian dari Cooley disebut "cermin diri" (Looking Glass Self), yaitu tingkah laku orang-orang seolah-olah merupakan cermin bagi imajinasi pribadi tertentu. Dalam hal ini ada tiga elemen atau langkah, yaitu:
a. Imajinasi tentang bagaiman seseorang tampil dihadapan pihak lainnya.
b. Imajinasi tentang bagaimana pihak lain menilai penampilan tersebut.
c. Reaksi-reaksi emosional terhadap pedirian pihak lain. Teori lainnya adalah dai George Mead yang membagi kedirian menjadi dua dimensi, Yaitu:
  1. Dimensi aku sebagai objek (me)
  2. Dimensi aku sebagai subjek (I)
    Kepribadian diartikan organisasi dinamis dari sistem psikofisis dalam individu yang turut menentukan cara-cara yang unik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan (Gordon W.Allport; 1937). Empat faktor penting yang menentukan kepribadian, yaitu:  
a. Keturunan (warisan biologis)
   Manusia dilahirkan dengan suatu struktur anatomi, fisiologi, dan urat sarafnya, yang menentukan batas-batas tertentu terhadap tingkah laku sosialnya.
b. Lingkungan tempat
   Lingkungan tempat manusia hidup terdiri dari lokasi, iklim, topografi, dan sumber-sumber alam. kesemua faktor ini mempengaruhi aktivitas manusia.
c. Tempat fisik kehidupan sosial
   Semua manusia tumbuh "dewasa" bersama-sama dengan bertambahnya pengalaman didalam satu atau laintempat geografis, dengan banyak dan sedikit, ada atau tidak ada aneka ragam tempat fisik seperti agraris dan nonagraris.
d. Lingkungan sosial dan budaya
   Dalam lingkungan sosial dan budaya tidak ada dua orang individu pun yang hasil bentukan sosialisasi nya sama, sebab banyak perbedaan aspek sosial dan budaya seperti dalam akspresi kebudayaan, pengetahuan atau keterampilan, pengawasan sosial, standar hidup, kontak dari kelompok tertentu, dan mobilitas hidup.

     Sosialisasi para pemuda. Pemuda sebagai permasalahan, seperti masa peralihan, kebutuhan untuk mandiri, menyebabkan timbulnya gejolak yang macam-macam. Dalam hal ini peranan lingkungan yang membentuk kepribadian dan mencari kedirian pemuda menjadi penting disertai bimbingan yang bijaksana.
  
     Karena dalam sosialisasi pengintegrasian individu dalam kelompok lebih berkembang, maka lingkungan atau jalur organisasi fungsional harus memberi teladan dalam pola-pola tindakannya. Penuh kreativitas disertai pelestarian dan penanaman asas-asas moral, etika, bersusila, serta keyakinan agama, dan mampu dijadikan sebagai barometer kehidupan bangsa. Pembinaan pemuda yang ada dan sedang berjalan dilakukan melalui tiga jalur, yaitu:
a. Jalur pendidikan mulai dari pendidikan dalam keluarga, sekolah taman kanak-kanak, sampai diperguruan tinggi.
b. Jalur organisasi fungsional pemuda mulai dari KNPI, pramuka, dan organisasi-organisasi lainnya.
c. Jalur media massa, dengan cara menyajikan artikel-artikel yang mengandung nilai-nilai budaya, bangsa, dan agama.

    Tidak disangkal lagi bahwa lembaga-lembaga masyarakat pun dituntut perannya, yang menampung aspirasi pemuda, dan senantiasa siap menghadapi dinamika pemuda. Dari seluruh uraian diatas dapatlah diketahui, bahwa pemuda dan sosialisasi merupakan suatu permasalahan, yang perlu diperhatikan dan dibahas secara mendalam disertai pemecahannya sehingga tercapai peranan pemuda yang digariskan dalam GBHN.


Dr. M. Munandar Soelaeman, Ilmu Sosial Dasar
http://www.indonesiastudents.com/pengertian-pemuda-menurut-para-ahli/

Selasa, 23 Oktober 2018

ILMU SOSIAL DASAR

Masalah Sosial menurut Ilmu Sosial Dasar

Masalah:
          Penyebaran berita hoax Penyebarluasan berita hoax adalah masalah sosial di era digital. Meskipun sebenarnya masalah ini sudah ada sejak jaman kuno, media digital membuat penyebaran hoax makin intensif dan dengan mudah menjadi konsumsi publik. Berita hoax diproduksi oleh kelompok kepentingan tertentu dengan tujuan yang beragam, dari meraup untung finansial sampai memecah belah persatuan bangsa.


Cara Penyelesaian:
          Memang banyak penyebaran berita hoax, tidak sedikit dari kita percaya sebelum mengetahui kebenaran berita tersebut.Oleh karena itu kita perlu memastikan terlebih dahulu berita tersebut, dengan cara peningkatan literasi media sosial melalui komunikasi keluarga, karena keluarga merupakan unit terkecil tempat bersosialisasi, mencari terlebih dahulu kebenaran berita, dan wacana alternatif sebelum sharing di media sosial. karna Media Sosial semestinya dimanfaatkan untuk bersosialisai dan berinteraksi dengan menyebarkan konten-konten positif. 



sumber



- Media sosial semestinya dimanfaatkan untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan menyebarkan konten-konten positif. Sayangnya, beberapa pihak memanfaatkannya untuk menyebarkan informasi yang mengandung konten negatif.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Cara Cerdas Mencegah Penyebaran "Hoax" di Media Sosial", https://nasional.kompas.com/read/2017/11/07/08020091/cara-cerdas-mencegah-penyebaran-hoax-di-media-sosial.

- Media sosial semestinya dimanfaatkan untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan menyebarkan konten-konten positif. Sayangnya, beberapa pihak memanfaatkannya untuk menyebarkan informasi yang mengandung konten negatif.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Cara Cerdas Mencegah Penyebaran "Hoax" di Media Sosial", https://nasional.kompas.com/read/2017/11/07/08020091/cara-cerdas-mencegah-penyebaran-hoax-di-media-sosial.

 

ILMU SOSIAL DASAR

Tujuan diberikannya Mata Kuliah Ilmu Sosial Dasar


1. Pengertian
Sebelum masuk tujuan diberikannya mata kuliah ilmu sosial dasar, kita bahas  pengertian dari ilmu sosial dasar adalah pengetahuan yang mempelajari tentang masalah-masalah sosial, khususnya yang diwujudkan oleh masyarakat Indonesia dengan menggunakan berbagai macam pengertian seperti fakta, konsep maupun teori. Hal tersebut bisa berasal dari berbagai bidang pengetahuan dalam ilmu-ilmu sosial misalkan: sejarah, ekonomi, geografi sosial, sosiologi, antropologi dan psikologi sosial.
Ilmu Sosial Dasar bukan gabungan dari ilmu-ilmu sosial yang dipadukan, karena masing-masing sebagai disiplin ilmu memiliki obyek dan metode ilmiahnya tersendiri yang tidak dapat dipadukan.
Ilmu Sosial Dasar bukan merupakan disiplin ilmu tersendiri, karena Ilmu Sosial Dasar tidak mempunyai obyek dan metode ilmiah khusus dan juga tidak mengembangkan suatu penelitian sebagai mana suatu disiplin ilmu, seperti ilmu-ilmu sosial di atas.
Ilmu Sosial Dasar merupakan suatu bahan studi atau Program Pengerjaan yang khusus dirancang untuk kepentingan pendidikan/pengajaran yang diberikan di Perguruan Tinggi di Indonesia. Mata kuliah Ilmu Sosial Dasar diberikan dalam rangka usaha untuk memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan guna mengkaji gejala-gejala sosial agar daya tanggap, persepsi dan penalaran mahasiswa dalam menghadapi lingkungan sosialnya dapat ditingkatkan, sehingga lebih peka terhadapnya.

2. Tujuan
Adapun tujuan diberikannya mata kuliah ilmu sosial dasar adalah:
a. Memahami dan menyadari adanya kenyataan sosial dan masalah-masalah sosial yang terjadi dalam lingkungan masyarakat.
b. Peka terhadap masalah-masalah sosial dan tanggap untuk ikut serta dalam usaha-usaha menanggulanginya.
c. Menyadari bahwa setiap masalah sosial yang timbul dalam masyarakat selalu bersifat kompleks dan hanya dapat mempelajarinya secara kritis-interdisipliner.
d. memahami jalan pikiran para ahli dari bidang ilmu pengetahuan lain dan dapat berkomunikasi dengan mereka dalam rangka penanggulangan masalah sosial yang timbul dalam masyarakat.
e. Membantu perkembangan wawasan pemikiran dan keprribadian agar memperoleh wawasan pemikiran yang telah luas.






Perbedaan format, size, dan resolusi dari JPG, PNG, BMP, TIF, dan GIF serta melihat potongan matriks gambar BMP dari Scilab

Gambar yang digunakan adalah gambahr roti yang didapatkan dari google dengan format GIF, mempunyai resolusi 1000 x 1000, dan mempunyai size ...